Tampilkan posting dengan label Perang Korea. Tampilkan semua posting

Sekilas Mengenai Sengitnya Pertempuran Udara selama Perang Korea 1950-1953

Perang Korea (1950-1953) menjadi salah satu ajang pertempuran udara paling sengit yang terjadi sepanjang sejarah dalam konteks persaingan. Pada perang Korea, pilot-pilot dari kubu komunis dan PBB Amerika bertempur dengan sengit di udara dalam pesawat yg didominasi jet.

Salah satu yg menarik dalam perang korea ini adalah, pilot-pilot yang bertempur di pihak komunis tidak hanya dari Korea Utara, ada Soviet dan Cina. Pilot Soviet dikenal sebagai "Honcos" oleh para pilot PBB Amerika, julukan ini melekat sekali kepada pilot Soviet dengan MiG-15.

MiG-15 Fagot yang menjadi andalan pilot-pilot kubu komunis terbukti menjadi ancaman nyata bagi AU kubu PBB, terutama pilotnya. Dan ketika Pilot Soviet memiloti MiG-15, pilot Amerika mengakui mereka lebih memilih kabur jika bertemu dalam keadaan tidak seimbang.

Selama perang, PBB menerbangkan pesawatnya lebih dari 1 juta sorti, dan pihak Komunis jauh lebih banyak lagi. Sorti-sorti oleh kubu komunis didominasi oleh Yak-3, Yak-9, Il-10, Tu-2, MiG-9, Yak-15, MiG-15, Yak-17U, dsb.

Sekilas Mengenai Sengitnya Pertempuran Udara selama Perang Korea 1950-1953

Sekilas Mengenai Sengitnya Pertempuran Udara selama Perang Korea  1950-1953

Pilot soviet hanya terbang di atas korea mulai dari April 1951 hingga Januari 1952, selama itu pula 142 pesawat PBB ditembak jatuh.

Mengapa Rusia memutuskan untuk turun gunung dan bertempur langsung di Korea?

Akhir 1950, Korut sudah terdesak hingga ke perbatasan sungai Yalu dengan Cina. AU korea Utara nyaris dimusnahkan saat itu. Akibat minimnya pengalaman dan pelatihan pilot korut, pesawat AU Korut / KPAF menjadi mangsa empuk pesawat tempur PBB.

Akhirnya Rusia gregetan dan mulai menurunkan pilotnya untuk membekingi cina dan korea utara, agar bisa membalikkan keadaan lagi. Setelah itu MiG MiG mulai merajalela diudara, diawali dengan MiG-9 Cina lalu disusul dengan MiG-15 AU soviet dan Korut dgn pilot Soviet.

Bagaimanakah pilot Soviet mampu membuat takut pilot Amerika selain dengan bermodalkan MiG-15 yang superior dibanding F-86 Sabre?

Pilot Soviet mengembangkan taktik berupa "sword and shield" jika disebut oleh pihak Amerika. Setiap kali penyergapan, pilot Soviet akan terbang dalam formasi 6 pesawat yang terbagi dalam 3 elemen yang berbeda. Dua pesawat sebagai penyergap, dua pesawat sebagai pelindung yang menyergap, dan dua lagi mengawasi dari jauh dan akan membantu jika butuh.

Taktik ini dikembangkan oleh Georgii Lobov (19 kill), Aleksandr vasco (15 kill) dan Aleksandr Kumanichkin (30 kill) ini terbukti sukses.

Tercatat 51 Ace Soviet lahir selama Perang Korea, dan para pilot Soviet mengakui pilot Amerika adalah pesaing yang tangguh.

Setelah pilot Soviet mengundurkan diri dari gelanggang, mereka memutuskan untuk melatih sendiri pilot Cina dan Korea Utara untuk menerbangkan MiG.

Ace tertinggi soviet di Korea adalah Yevgeni Pepelyaev dengan 23 kills, Nikolai Sutyagin dengan 21 kills dan Sergei Kramenko (19 kills).

Aturan yang digunakan pilot F-86 Sabre USAF dalam menyikapi ancaman yang ditimbulkan MiG-15:

1. Selalu terbang dalam kecepatan tinggi apabila sudah memasuki daerah lawan.

2. Buang Tangki cadangan apabila akan memulai air combat, dilarang mencoba bertempur melawan MiG-15 jika Drop Tank masih terpasang.

3. Apabila Drop Tank tidak dapat dilepas, segera kembali ke pangkalan secepatnya.

4. Waspada apabila musuh datang dari arah matahari.

5. Usahakan musuh terlihat secara visual apabila akan mulai dogfight, pesawat musuh yang tak terlihat adalah ancaman potensial.

6. Jangan memberi kesempatan pesawat musuh mendekat kurang dari jarak 2500 kaki.

7. Siluet MiG-15 mirip dengan F-86 apabila dilihat diatas jarak 3000 kaki, jangan tembak apabila tidak ada visual contact.

8. Kembangkan Mutual Support dalam bertempur. Lakukan Break apabila diperingatkan teman / Wingman.

9. Yang terpenting adalah : Jangan Panik.

10. Selama kombat. Gunakan Full Throttle, jangan sekali-kali menggunakan Air Brake.

Sumber: @TweetMiliter

Sekilas Mengenai Perang Korea Utara dan Selatan

Perang Korea adalah perang saudara antara Korea Utara dan Korea Selatan yang berlangsung sejak 25 Juni 1950 dan berakhir pada 27 Juli 1953 dengan ditanda tanganinya perjanjian Gencatan senjata. Gencatan senjata berarti Perang Korea belum sepenuhnya berakhir hingga kini.

Pada Perang Korea, Korea Selatan didukung oleh Amerika Serikat yang bertindak untuk dan atas nama PBB. Selain itu, Korea Selatan juga dibantu sekutunya, Inggris, Australia, Kanada dan negara lain yang mengirim tentaranya dibawah bendera PBB (antara lain Turki).

Sedangkan Korea Utara yang komunis, dibantu oleh pasukan Republik Rakyat China yang waktu itu belum jadi anggota PBB dan Uni Sovyet (yang anggota tetap Dewan keamanan PBB dan berhak mem-veto keputusan perang PBB). Uni Sovyet juga membantu secara finansial, perlengkapan perang dan juga penasihat militer.

Sekilas Mengenai Perang Korea Utara dan Selatan

Sekilas Mengenai Perang Korea Utara dan Selatan

Semuanya berawal dari pendudukan Semenanjung Korea oleh Jepang selama Perang Dunia II. Amerika Serikat, RRC (yang masih dikuasai Nasionalis-Chiang Kai Sek, yang pro sekutu), Inggris dan Uni Sovyet, pada Konferensi Kairo, November 1943, menyetujui untuk melepaskan kepentingan masing2 atas Korea dan menjadikannya negara merdeka secara berangsur dibawah suatu perwalian.

Tapi kemudian Amerika Serikat dan Uni Sovyet mengingkari perjanjian ini dan membuat Konferensi Yalta (Februari 1945) yang isinya antara lain mengijinkan Uni Sovyet membentuk buffer zone Eropa dan menguasai Korea sampai batas 38° Lintang Utara.

Sekilas Mengenai Perang Korea Utara dan Selatan

Seusai perjanjian itu, Uni Sovyet mengumumkan perang kepada Jepang 9 Agustus 1945 dan berderap memasuki Korea.

8 September 1945 barulah AS menerima penyerahan Korea dari Jepang. Sementara itu, Kim Il Sung di Utara memproklamirkan kemerdekaan Republik Rakyat Korea (resmi di deklarasikan 9 September 1948).

Pemerintahan perwalian Amerika Serikat di Korea Selatan enggan mengakui kemerdekaan itu karena dianggap terlalu komunis.

Amerika Serikat segera membentuk pemerintahan sipil di Korea Selatan di bawah kepemimpinan Syngman Rhee yang memproklamasikan Republik Korea pada 15 Agustus 1948.

Kedua pemimpin ini sebenarnya berniat untuk meyatukan Korea, tapi terhalang oleh ideologi masing-masing.

Amerika Serikat angkat kaki dari Korea Selatan pada tahun 1949 dengan meninggalkan Tentara Korea Selatan dengan sedikit persenjataan. Sementara Korea Utara terus mendapat bantuan dari Uni Sovyet. Hal ini membakar Kim untuk melakukan invasi untuk menyatukan Korea.

Dengan dalih bahwa pihak Selatan yang lebih dulu mem-provokasi dan melanggar demarkasi 38° LU, 25 Juni 1950 Korea Utara memulai invasi ke Korea Selatan dengan 250 ribu tentara infanteri dengan dukungan tank dan serangan udara.

Karena tidak siap dan nyaris tanpa dukungan, hanya dalam waktu 3 bulan (September 1950) Korea Utara berhasil menguasai 90% wilayah Korea Selatan.

Beberapa jam kemudian kemudian, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengecam invasi Korea Utara terhadap Republik Korea, melalui Resolusi 82 DK PBB, meskipun Uni Soviet dengan hak vetonya memboikot pertemuan sejak Januari. Setelah memperdebatkan masalah ini, DK PBB, pada 27 Juni 1950, menerbitkan Resolusi 83 yang merekomendasikan negara anggota memberikan bantuan militer kepada Republik Korea.

Uni Soviet menentang legitimasi perang tersebut, karena:

  • Data intelejen tentara Korea Selatan yang menjadi sumber Resolusi 83 didapatkan dari intelejen AS;
  • Korea Utara (Republik Demokratik Rakyat Korea) tidak diundang sebagai anggota sementara PBB, yang berarti melanggar Piagam PBB Pasal 32;
  • Perang Korea berada di luar lingkup Piagam PBB, karena perang perbatasan Utara-Selatan awalnya dianggap sebagai perang saudara.


Selain itu, perwakilan Soviet memboikot PBB untuk mencegah tindakan Dewan Keamanan, dan menantang legitimasi tindakan PBB; ahli hukum mengatakan bahwa untuk memutuskan suatu tindakan diperlukan suara bulat dari 5 anggota tetap DK PBB.

Dukungan Amerika Serikat dengan bendera PBB membuat Korea Selatan mampu menahan kekuatan Korea Utara di Pusan (Agustus- September 1950).

Taktik Douglas MacArthur untuk mendaratkan marinir Amerika Serikat di Incheon, garis belakang pertahanan Utara, mampu memotong jalur bantuan dan perbekalan Korea Utara.

Tentara Korea Utara yang kekurangan perbekalan kemudian kalah jumlah terpukul balik.

Pukulan balik ini berlanjut sampai jauh ke wilayah Utara (Nopember 1950), bahkan Pyongyang jatuh ke tangan pasukan PBB pada Oktober 1950.

Tapi kemudian timbul masalah. RRC menuduh tentara Korea Selatan yang didukung PBB ‘kluyuran’ terlalu jauh ke utara dan merasa kedaulatannya terusik.

Mereka (RRC) kemudian memutuskan untuk “membantu Korea dalam menghadapi invasi Amerika Serikat dan PBB”.

Akhir Oktober tahun itu, 300 ribu tentara “sukarelawan” RRC menyeberangi sungai Yalu untuk membantu Korea Utara.

Dengan kekuatan sebesar itu, tentara Korea Selatan dan PBB dipukul mundur kembali sehingga melewati batas demarkasi 38° LU.

Selain kekalahan telak di lapangan, pasukan sekutu juga mengalami pukulan moril dengan gugurnya komandan Amerika Serikat Jend. Mark W. Clark.

Kekalahan ini membuat Jend. MacArthur sebagai komandan Asia Pasifik mengusulkan untuk mempergunakan bom atom kembali.

Tetapi tambahan 100 ribu tentara, perlengkapan kavaleri dan perbekalan, membuat pasukan PBB di bawah Komandan yang baru Matthew Ridgway berhasil menahan laju pasukan RRC.

Bahkan karena tidak sempurnanya jalur logistik, membuat RRC dan Korea Utara mengosongkan kembali daerah yang dikuasainya.

Pasukan Korea Selatan AS berhasil mendesak kembali lawannya ke Korea Utara dan bertahan di sekitar jalur demarkasi 38° LU.

Meskipun perang masih berlanjut, posisi ini tidak lagi berubah sampai gencatan senjata. Perang ini berakhir dengan ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata 27 Juli 1953 antara Amerika Serikat, RRC dan Korea Utara.

Presiden Korea Selatan Syngman Rhee menolak menandatanganinya, namun berjanji untuk menghormatinya.

Korban tewas: AS: 36.940 terbunuh, China:100.000-150.000 terbunuh; kebanyakan sumber memperkirakan 400.000 orang yang terbunuh; Korea Utara: 214,000–520,000; kebanyakan sumber memperkirakan 500.000 orang yang terbunuh. Korea Selatan: Rakyat sipil: 245.000—415.000 terbunuh; Total rakyat sipil yang tewas antara 1.500.000—3.000.000; kebanyakan sumber memperkirakan 2.000.000 orang tewas.

Sungguh dahsyat bencana kemanusiaan yang terjadi akibat mempertahankan sebuah ideologi. Dan, Perang Korea Utara dan Korea Selatan sepertinya akan timbul dan meledak lagi. Sumber: @TweetMiliter, Wikipedia