Sosok Intelijen Anti Islam III : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam

Updated by | Rabu, Maret 27, 2013
Lanjutan artikel sebelumnya: Sosok Intelijen Anti Islam II : Ali Moertopo, Arsitek Pemberangus Gerakan Islam Orde Baru.

Jika ‘Mengenal Sosok Intelijen Anti-Islam’ di bagian sebelumnya mengungkap sosok Ali Moertopo, di bagian ketiga ini menyingkap kader atau penerusnya Ali Moertopo, yaitu Benny Moerdani yang juga dikenal sangat memusuhi umat Islam.

Benny diduga berada di balik tragedi berdarah Tanjung Priok, 1984. Pada masanya, militer Indonesia pernah dilatih di Israel.

Raut wajahnya keras dan kaku. Terkesan angker dan tak bersahabat. Itulah Leonardus Benjamin “Benny” Moerdani, sosok jenderal militer pada masa Orde Baru yang dikenal sangat benci Islam dan kaum Muslimin.

Benny Moerdani adalah orang kepercayaan Ali Moertopo. Benny sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Moertopo untuk menggantikannya dalam menjalankan tugas mengawasi bahaya “ekstrem kanan”, yang tak lain adalah gerakan Islam.

Benny Moerdani lahir di Cepu, 2 Oktober 1932. Di kalangan Katolik, jenderal yang dikenal ahli intelijen ini sangat dibangga-banggakan. Benny bisa dibilang sebagai representasi kelompok Katolik yang mempunyai posisi penting dalam lingkaran militer dan kekuasaan Orde Baru pada masa lalu.

Sosok Intelijen Anti Islam II : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam

Sosok Intelijen Anti Islam II : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam

Sebagai kader Moertopo, Benny pernah diangkat menjadi wakilnya ketika terjadi konfrontasi antara Indonesia dengan Malaysia.

Ia juga termasuk sosok yang terlibat dalam pembentukan Centre for International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tank yang sangat dekat dengan Orde Baru, didukung oleh para birokrat Kejawen dan pengusaha etnik Cina yang saat itu membangun gurita dalam lingkar elit kekuasaan Orde Baru.

Di kalangan tentara Muslim, Benny Moerdani dikenal sangat tidak aspiratif terhadap kelompok Islam. Almarhum mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Ka-BAKIN), Letjend TNI Z.A Maulani pernah mengatakan, pada masa Benny Moerdani menjadi panglima ABRI, sangat sulit mendapatkan masjid atau mushalla di komplek dan barak-barak militer.

Keberadaan tempat ibadah umat Islam tersebut dikontrol begitu ketat. Bahkan, pada masa itu banyak tentara Muslim yang tidak berani mengucapkan “Asssalamu’alaikum” ketika berada di lingkungan militer.

Benny pernah melontarkan pernyataan kontroversial yang melarang umat Islam mengucapkan salam. Dalam sebuah rapat kabinet bidang Polkam, Jaksa Agung Ali Said pernah dibentak oleh Benny karena mengucapkan “salam” dalam rapat tersebut. “Indonesia bukan negara Islam, tak perlu ucapkan salam,” bentaknya saat itu.

Peristiwa pembajakan pesawat yang disebut-sebut sebagai bagian dari operasi kelompok jihad, juga digagalkan atas peran Moerdani. Ia terlibat dalam aksi pembebasan para sandera dan penangkapan orang-orang yang dianggap sebagai “teroris” atau “ekstrem kanan” ketika itu.

Pasca Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) yang diduga kuat melibatkan operasi intelijen Ali Moertopo, Presiden Soeharto memanggil Moerdani yang ketika itu sedang bertugas sebagai konsulat di KBRI Korea Selatan untuk datang menghadap.

Belakangan diketahui, pemanggilan Moerdani ke Jakarta oleh Presiden Soeharto adalah hasil lobi-lobi Ali Moertopo untuk menempatkan kader pentingnya di lingkaran presiden.

Dengan diantar oleh Moertopo, Moerdani kemudian bertemu Pak Harto. Setelah pertemuan, Moerdani kemudian diangkat oleh Soeharto sebagai Ketua G-1 Intelijen Hankam yang bertugas mengendalikan seluruh intelijen di Angkatan Darat dan kepolisian. Selain itu Moerdani juga diperbantukan untuk BAKIN.

Karir militer Benny Moerdani terus melesat, meskipun ketika itu umat Islam mulai mencurigai sepak terjangnya yang sangat antipati terhadap aspirasi Islam.

Benny Moerdani dilibatkan dalam menangani intelijen Kopkambtib dan diangkat menjadi Ketua Satuan Tugas Intelijen, sebuah lembaga yang dikenal sangat angker dan ditakuti pada masa Orde Baru.

Para ulama, khatib, mubaligh dan aktivis Islam pernah merasakan bagaimana bengisnya lembaga ini dalam memosisikan Islam sebagai ancaman dan lawan. Moerdani bahkan diduga berada di balik perpecahan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sehingga terbentuklah dua HMI: HMI Dipo dan HMI MPO.

Tahun 1983, ketika Benny Moerdani diangkat sebagai Panglima ABRI menggantikan Jenderal M. Yusuf, umat Islam makin khawatir dengan sepak terjangnya.

Moerdani kemudian melakukan berbagai upaya restrukturisasi secara drastis, dengan menempatkan tentara-tentara yang Nasrani dalam jajaran penting di militer.

Sosok Intelijen Anti Islam II : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam

Benny Moerdani juga dicurigai dalam menjegal karir para perwira ABRI Muslim. Tak heran, jika ada yang menyebut telah terjadi kristenisasi di tubuh ABRI di bawah kepemimpinan Benny Moerdani.

Dalam persepsi Benny Moerdani, semua gerakan Islam adalah ancaman, sebagaimana DI/TII pada masa lalu yang kemudian ditumpas.

Benny Moerdani yang pernah terlibat dalam operasi menumpas DI/TII dan PRRI/Permesta tidak bisa membuang persepsi negatif terhadap gerakan Islam, sehingga menjadikan Islam sebagai ancaman yang membahayakan keutuhan NKRI.

Berbeda dengan Ali Moertopo yang kerap pamer kekuasaan, Benny justru dikenal sebagai sosok yang misterius dan penuh rahasia. Meski sama-sama haus kekuasaan, Bennyi bermain “cantik” untuk menjalankan obesesinya tersebut.

Sebagai orang yang malang melintang di dunia intelijen, segala tindakan ia perhitungkan dengan matang dan sangat tertutup. Bahkan ihwal tentara yang sering kali di latih di Israel pun, pada masa Benny Moerdani tidak terungkap, tertutup rapat.

Di kalangan tentara Muslim, isu tentang militer yang dilatih di Israel pada masa Benny Moerdani sudah santer terdengar.

Benny menyadari posisinya sebagai bagian dari kelompok minoritas di Indonesia. Itu membuanya sulit untuk menggapai puncak kekuasaan di republik ini.

Karena itu, dengan kelihaiannya ia berperan sebagai king maker, orang yang mempengaruhi pihak yang berkuasa. Kepada perwira kopassus di akhir tahun 1980-an Benny pernah berseloroh, “Buat apa jadi orang yang berkuasa, jika bisa dengan tanpa risiko kita mengontrol orang yang berkuasa.”

Karena itu, Benny membuat strategi agar orang yang berkuasa nanti, meskipun berasal dari kalangan Islam, namun bisa dengan leluasa ia atur.

Itulah yang menyebabkan ia menjegal habis-habisan langkah Soedharmono untuk menjadi wakil presiden, karena Sudharmono bukan sosok yang bisa ia atur, di samping, menurutnya, Soedharmono dekat dengan kalangan santri. Benny kemudian menjadikan Naro sebagai calon wakil presiden yang ia gadang.

Benny juga dikenal lihai dalam mendekati kelompok Islam yang pernah memendam kekecewaan dengan Masyumi. Ia melakukan politik belah bambu dengan mendekati kiai dari kelompok Nahdlatul Ulama (NU), dan menginjak kelompok lain yang berseberangan dengan NU.

Pertentangan antara NU sebagai kelompok tradisionalis Islam dengan kelompok Masyumi sebagai santri modernis ia pertajam. Karenanya, Benny kerap bersafari dari pesantren ke pesantren NU dengan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur untuk melakukan politik pecah belah tersebut.

Safari bersama dilakukan Benny dan Gus Dur di tengah kecaman umat Islam yang menuntut Benny bertanggung jawab dalam tragedy pembantaian umat Islam Tanjung Priok, di Jakarta pada 12 September 1984.

Saat peristiwa Priok, Benny sedang berada di Jakarta. Bahkan pada tengah malam usai tragedi pembantantaian, Benny sudah berada di lokasi kejadian.

Pada dini harinya ia langsung meluncur ke rumah sakit dan sempat menghitung jumlah mayat yang tergeletak di rumah sakit. Anehnya, sampai akhir hayatnya, Benny Moerdani sama sekali tidak tersentuh hukum dalam tragedi berdarah ini.

Sosok Intelijen Anti Islam II : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam
Benny & Try Sutrisno pasca Peristiwa Priok

Leonardus Benny Moerdani meninggal di Jakarta, pada 29 Agustus 2004 dalam usia 72 tahun, karena menderita stroke. Kepergiannya mendapatkan penghormatan yang luar biasa di kalangan militer.

Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Bendera setengah tiang selama tujuh hari dikibarkan di lingkungan militer.

Setelah Moerdani tiada, siapakah sosok intelijen anti Islam yang menggantikannya?

Sumber Artikel Asli: Artawijaya/salam-online.com

Anda membaca Sosok Intelijen Anti Islam III : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam jangan lupa untuk membagikan dengan teman-teman anda.



Komentari artikel Sosok Intelijen Anti Islam III : LB Moerdani, Kader Jesuit yang Memusuhi Islam

21 komentar:

  1. Tolong buat postingan yang berkualitas mas. Jangan menggunakan logika tukang becak atau logika santri frustasi. Jangan aneh-aneh. Sedikit-dikit berhubungan dengan penindasan umat islam, kalau tokohnya beragama lain. Kalau tokohnya memiliki agama yang sama, pembahasannya menjadi beda,..... orang muhammadiyah minoritas, menipu NU yang mayoritas.... atau apalagi ? makanya logika harus di dalam kepala atas, bukan logika di kepala bawah yang botak (ngerti maksud saya ? army story.......storyyyy).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas sudah berkunjung, tulisan ini saya angkat karena menurut saya bagus untuk sedikit membuka cara berpikir kita. Jadi tidak begitu saja percaya akan sesuatu, karena terus terang saya tidak 100% percaya dengan buku sejarah, kalau itu yang anda maksud dengan "jangan aneh-aneh". Masalah percaya atau tidak dengan pendapat ini, silahkan cari tahu dulu kebenarannya. Kalau sudah ada fakta yang menyatakan ini salah, saya dengan senang hati menghapus tulisan ini, dan menggantinya dengan versi anda.

      Hapus
  2. brita apaan ni mas bro.ni namanya hoax goblok.blajar dulu sono.....klo ndak bikin aja fiksi entah cerpen apa novel sekalian siapa tahu ngebooom

    BalasHapus
  3. Memang benar si Murdani itu tokoh salibis yg memusuhi Islam. Saat dia mmg banyak kafirisasi di militer yg tdk terekspos. Makanya pada saat itu ada kubu2 tni hijau dan tni merah. Semua yg anda ula benar. Tentang NU dpt dipastikan benar. Kebodohan orang2 NU sengaja dilestarikan oleh orang2 spt GusDur agar bisa digoblokin terus. Dan itu masih berlangsung smp saat ini. Gembala2 NU di jawa adalah penyumbang murtadin paling banyak. Krna mmg jd lahan bisnis hidup bg bbrpa tokoh NU yg pro pluralis. Oleh krn itu Murdani berpikir utk menundukan musuh tdk perlu menggunakan pedang sendiri. Gunakan pedang lawan. Dan NU dr dulu smp sekarang adalah pedang2 yg sering diarahkan ke sesama Muslim. Mereka mengaku Islam tp menghujat saudara2nya yg matian2 menegakkan Islam. Dan mau menjual aqidahnya utk hidup. Lihat sj tokoh2 NU. yg baik hanya Oknum.

    BalasHapus
  4. Aduuuh buat sci fi aja bro bagus...
    Data dapat dimana nih? Malu bro buat tulisan tp argument ga didukung data valid. Kl dibaca ma org yang bener2 menguasai ttg apa yg km tulis apa km ga nutupin kepala dgn bantal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. "Data dapat dari mana?" ada sumber di bagian bawah bro :D
      Kalau tidak didukung fakta kan namanya masih opini, saya sendiri tidak bisa menyatakan opini ini sepenuhnya benar, karena itu saya sebarkan agar ada orang yang "benar2 menguasai" bisa membantah dengan fakta yang dia miliki, bukannya orang2 yang hanya bisa mengatakan "ini salah" tapi tidak bisa memberikan mana yang benar!!! Jadi selama belum ada yang bisa membuktikan kalau ini salah, maka bagi saya ini masih "benar''.

      Makasi sudah berkunjung :D

      Hapus
  5. bagus bro, menarik juga artikel ni......kalau bisa, sekalian dong bongkar rahasianya Pak Soekarno yang masih tertutup....pasti seru tuh.......
    karena sejarah yang kita belajar waktu sekolah belum mengulas semua fakta yang ada........kalau bisa ya bro

    BalasHapus
  6. Artikel yang bagus... tulisan ini jalurnya sudah benar seperti pengakuan ali murtopo di biografinya... memang moerdani itu orang kepercayaan ali murtopo tokoh yg mencari muka dengan mendiskreditkan islam... si ali ini pernah ditegur Yoga Soegama tentang kelakuannya tersebut dan teguran itu ndak berpengaruh pada kelakuannya...
    Untuk yang bernama ANONIM (cara orang pengecut tampil).. kalau mau komen yg sopan dong, anda tuh type orang yg malas membaca tapi sok pinter mengoreksi tulisan orang... sebaiknya baca dulu biografi orang2 yg terkait dgn moerdani maka anda akan bisa ambil kesimpulan... jangan2 otak andalah yg ada dikepala botak bagian bawah :D

    BalasHapus
  7. Artikel yang bagus... tulisan ini jalurnya sudah benar seperti pengakuan ali murtopo di biografinya... memang moerdani itu orang kepercayaan ali murtopo tokoh yg mencari muka dengan mendiskreditkan islam... si ali ini pernah ditegur Yoga Soegama tentang kelakuannya tersebut dan teguran itu ndak berpengaruh pada kelakuannya...
    Untuk yang bernama ANONIM (cara orang pengecut tampil).. kalau mau komen yg sopan dong, anda tuh type orang yg malas membaca tapi sok pinter mengoreksi tulisan orang... sebaiknya baca dulu biografi orang2 yg terkait dgn moerdani maka anda akan bisa ambil kesimpulan... jangan2 otak andalah yg ada dikepala botak bagian bawah :D

    BalasHapus
  8. data masih dipertanyakan kevaliditasannya, kadang terkesan aneh ketika mengkritik orang yang setidaknya memiliki jasa bagi bangsa ini, sedangkan yang mengkritik bukanlah siapa2, mungkin jasanya hanya sebatas membayar pajak, atau malah tidak?? pengkritik lupa tanpa mereka2 ini mungkin indonesia hanya sekedar bekas negara :)

    BalasHapus
  9. ada banyak biografi yang saya baca, semua menyatakan bahwa si jendral bejat "Benny" otak di balik kerusuhan mei 1998 dan tragedi tanjung priok, dan mengkambing hitamkan Prabowo sebagai tertuduh
    buat yg gak terima tentang si jendral bejat ini, karena kalian memang org yg buta, tidak terima fakta sejarah, Dajal tidak akan pernah menang, itu sdh mutlak

    BalasHapus
  10. Moerdani di buku biografinya adalah pahlawan perang turun hampir disemua palagan sr sumatera jawa sulawesi sampai papua, seorang negarawab sekaligus pahlawan perang , jiwanya menuntut indonesia yang plural...

    BalasHapus
  11. Tulisan sangat tidak bermutu. Layak untuk keasih dekatnya saja yang baca. Tidak semua orang Islam berpikir seperti ini tulisan ini, justru mereka menentang. Kecuali tulisannya berdasarkan fakta ya, bisa dibenarkan.

    BalasHapus
  12. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  13. Bagus ne sejarahnya...udh bs di asumsikan juga bhwa RI 1...!!! ulahnya siapa?

    BalasHapus
  14. Bagus ne sejarahnya...udh bs di asumsikan juga bhwa RI 1...!!! ulahnya siapa?

    BalasHapus
  15. Artikel Otak Lumpur nih Postingannya

    BalasHapus